Ini humor batak lama yang saya ambil dari kapanlagi.com tapi sepertinya
membuat terngiang terus di pikiran saya yang membuat saya untuk berbagi. Untuk
orang batak sebelumnya minta maaf ya ini hanya humor bukan menyinggung soalnya
aslinya memang dibuat oleh orang medan juga, selamat membaca
Pada jaman
dahulu kala, hiduplah seorang pendekar wanita, Butet namanya. Sebelum lulus
dari Pandapotan silat, ia harus menempuh ujian Nasution. Agar
bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke gunung dan berlatih. Saat
di perjalanan, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu
setempat.
Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan ke sana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang Manurung, kadang butar-butar tidak karuan.
Di tepi
jalan dilihatnya banyak Pohan.Kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa
di antaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.
Begitu sampai di atas gunung, Butet berujar "Wow, Siregar sekali hawanya", katanya, berbeda dengan kampungnya yang Panggabean. Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan, sambil diiringi Riama musik dari mulutnya.
Sejauh Simarmata memandang, warna hijau semuanya. Tidak ada tanah yang Girsang, semuanya Singarimbun. Tampak di seberang, lautan dan ikan Lumban-lumban. Terbawa suasana, mulanya Butet ingin berenang. Tetapi yang ditemukannya hanyalah bekas kolam Siringo-ringo yang akan di-Hutauruk denganTambunan tanah. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir hutan saja, yang suasananya asri, meskipun nggak ada Tiurma melambai kayak di pantai.
Sedang asik-asiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seekor ular yang sangat besar. "Sinaga!" teriaknya ketakutan sambil lari Sitanggang-langgang. Celakanya, dia malah terpeleset dari Tobing sehinga bibirnya Sihombing. Karuan Butet menangis Marpaung-paung lantaran kesakitan.
Tetapi dia lantas ingat, bahwa sebagai pendekar pantang untuk menangis. Dia harus Togar. Maka, dengan menguat-nguatkan diri, dia pergi ke tabib setempat untuk
melakukan
pengobatan. Tabib tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk
menolongnya. Tabib bilang, bibirnya harus di-Panjaitan. "Hm,
biayanya" Pangaribuan
Pangaribuan" kata
sang tabib setelah memeriksa sejenak. "Itu terlalu mahal. Bagaimana kalau Napitupulu
saja?" tawar si Butet. "Napitupulu terlalu
murah. Pandapotan saya kan kecil". "Jangan begitulah. Masa 'tidak
Siahaan melihat bibir saya Sihombing begini?" Apa saya mesti
Sihotang, bayar
belakangan?Nggak
mau kan ?
"Baiklah, tapi pakai jarum yang Sitompul saja" sahut sang mantri agak kesal. "Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih
"Baiklah, tapi pakai jarum yang Sitompul saja" sahut sang mantri agak kesal. "Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih
sedikit tidak
apa-apalah". Malamnya, ketika sedang asik-asiknya berlatih sambil makan
kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajagukguk.
Dia Bonar-bonar ketakutan. Ingin keluar, tapi tidak sibarani, Apalagi ketika mendengar suara di semak-semak dan tiba-tiba berbunyi
"Poltak!"
keras sekali.
"Ada
Situmorang?" tanya Butet sambil memegang tongkat seperti stik Gultom
erat-erat untuk menghadapi Sagala kemungkinan.Terdengar suara pelan, "Situmeang".
"Sialan,Cuma
kucing..." desahnya lega. Padahal dia sudah sempat berpikir yang Silaen-laen.
Selesai
berlatih, Butet-pun istirahat.
Terkenang dia akan kisah orang tentang Hutabarat di bawah Tobing pada jaman dulu dimana ada Simamora, gajah Purba yang berbulu lebat. Keesokan harinya, Butet kembali ke Pandapotan silatnya. Di depan ruang ujian dia membaca tulisan: "Harahap tenang! Ada ujian. "Wah telat, emang udah jam Silaban sih". Maka Siboru-boru dia masuk ke ruangan sambil menyanyi-nyanyi.
Di-Tigor-lah dia sama gurunya "Butet, kau jangan ribut!, bikin kacau konsentrasi temanmu! Butet, dengan tanpa Malau-malau langsung Sijabat tangan gurunnya, "Nggak
Terkenang dia akan kisah orang tentang Hutabarat di bawah Tobing pada jaman dulu dimana ada Simamora, gajah Purba yang berbulu lebat. Keesokan harinya, Butet kembali ke Pandapotan silatnya. Di depan ruang ujian dia membaca tulisan: "Harahap tenang! Ada ujian. "Wah telat, emang udah jam Silaban sih". Maka Siboru-boru dia masuk ke ruangan sambil menyanyi-nyanyi.
Di-Tigor-lah dia sama gurunya "Butet, kau jangan ribut!, bikin kacau konsentrasi temanmu! Butet, dengan tanpa Malau-malau langsung Sijabat tangan gurunnya, "Nggak
Pakpahan guru, sekali-sekali?! lagian saya
kan lagi sirait".
Akhirnya,
luluslah Butet dan menjadi orang
yang
disegani karena mengikuti wejangan gurunya untuk
selalu,
"Simanjuntak gentar, Sinambela yang benar
sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar